tanda nama tak lekang zaman
akankah kau tahu itu?
harum cendana tak lekang waktu
sadarkah kau di tengah gelap?
sendiri tapak pasir terjal
sendiri arah ufuk timur
barang tentu hormat atas
tetes sejentik hapus noda
arah langit timbul jatuh
akankah itu bertahan?
Behind The Story @ Di balik Sebuah Cerita @
yesterday was memories, tomorrow is a mystery, today is a Gift- Kungfu Panda- Setiap peristiwa memiliki cerita yang melatarbelakangi. berikut hasil pengamatan dan pengalaman yang penulis alami...
Laman
buku-buku bermakna
- 101 kisah bermakna dari negeri China( Lei Wei Ye)
- I am Gifted! So Are You?(Adam Khoo)
- si cacing dan kotoran kesayangannya(Ajahn Bram)
- the secret(Rhonda Byrne)
Cari Blog Ini
Rabu, 13 April 2011
Rabu, 17 November 2010
Sajak dari Seorang Pembelajar
Sangkakala Langit
Angin semilir di tengah perbatasan
Lambai pelan tak bersua
Harap tanduk nan muncul
Tergelepar keheningan
Kerikil putih nan elok di tanah pertiwi
Bangkitkan sangkakala kelam gelap
Tanyakan nurani terdalam segala ucap
Kerikil putih nan elok telan roh diri
Biru kelam di tengah kerumunan
Merah gelap di setiap simpangan
Jerit pilu sayat menyayat pecah sunyi malam
Aroma ngeri membahana layaknya cekam
Lorong langit, 2010
Tak Berbalas
Dingin senyawa di malam merah tenggelam laksana langit tercerai
Terduduk bisu aku, tatap cakrawala hitam nan pekat
Tersadar oh tersadar…
Yang termanis tercuri dari kesepian malam terdingin
Tatkala aku menoleh, tersirat sebuah nama… hilang
Aku sedari termenung…
Jiwa hijau nan lugu lenyap sudah, waktu terlewat
Akankah terlihat?
Bagai gula dikerubung semut
Habis hilang, tersisa kosong
Lorong Langit, 2010
“Itu”
Andai “Itu” berputar
Coba “Itu” berubah
Sang Mawar merekah tersungging seribu aroma
Andai “Itu” bersatu
Coba “Itu” bertemu
Sang Lebah mencium hangatnya nectar merah
Andai “Itu” berputar
Andai “Itu” berubah
Hujan pun menangis bahagia seiring pelangi abadi
Hidup
Teng…teng… teng… denting emas rasuki pikiran
Tak ubahnya opium penyihir ribuan umat
Begitu pun dia ataupun Engkau
Panjatkan rasa seraya mengangkat
Sembari tengok, ternyata kecil mungil ya dia ataupun engkau?
Keluar lepas… hirup penantian sekian lama…
Ayahanda… ini Saya! Tak terlihatkah ?
Aku t’lah bebas! Aku lepas! Inilah awal !
Sakit perih campur senang, tak sia juang lama
Tidur tak tenang, makan pun waspada
Sadar waktu… sadar menit… sadar detik…
Ibunda… ini Saya! Tak terlihatkah?
Aku t’lah bebas! Aku bahagia! Inilah akhir!
Tinggalah secerca pesan kepada yang baru
Lanjutkan semangat ke medan jua
Kembali bila selamat, kabarkan saat gerbang menjemput
Selintas Lalu Perjuangan
Jalan setapak di tepian sawah memanggil rimbaan masa awal
Ingatkan juang jagoan perang
Modalkan tekad, tanpa bersusah, semua bergerak
Panas matahari tersapu deru badak berbaju besi
Tanduk runcing bersiap sambut sang musuh
Terjatuh, terkulai, terjerembab, terdiam
Gumpalan kental terurai bercampur udara
Pekikan menyayat langit memecah kebisuan waktu
Terdiam sesaat… hembusan semilir angin meresap…
Pandangan hampa di depan… seolah berkata sampai bertemu
Gertak gigi menahan api jasmani
Tangan kosong seraya membidik
Tak ada lawan… semua usai teman
Kabarkan ke tanah kota … selintas peristiwa
Lorong Langit, 2010
Puisi ditulis oleh Randy Hernando
Minggu, 17 Oktober 2010
Potret Kecil Kaum Terpinggir Bantaran Kali Cisadane
Langkahnya pelan tapi meyakinkan, menyusuri setiap gang dekat bantaran kali Cisadane demi sesuap nasi. malam diselimuti hawa dingin, siang diserang panas terik, namun itulah yang setiap hari ia jalani setelah pulang sekolah.
K |
ring!kring!” bel tanda selesaipelajaran berbunyi. waktunya semua siswa pulang. Nadia(10 tahun)berjalan gontai keluar dari gerbang sekolahnya. perlahan tapi pasti, ia mulai menyusuri setiap gang kompleks perumahan dekat sekolahnya untuk memulai pekerjaan rutinnya yaitu memungut gelas plastik. Anak pertama dari 3 bersaudara itu sejak kecil sudah ikut kedua orangtuanya mengumpulkan gelas plastik ataupun kardus bekas. Baju coklat dan celana merah muda yang ia kenakan sedianya siap mendampinginya dalam bekerja.
Wajah ceria terlihat dari pipinya yang manis sekalipun dalam keadaan kotor. Ketika ditanya apa cita-citanya, ia pun menjawab,”aku ingin jadi dokter.” Bersama kedua orangtuanya beserta adiknya, mereka tinggal dimana-mana alias tidak punya tempat menetap. Ibunya bernama Marni(48 tahun dan ayahnya bernama Ujeng(34 tahun).”Kalau malam kami tinggal di halaman depan toko batik, kalau pagi sampai sore di sini,”ujar Marni. Marni dan suaminya Ujeng telah lama mengumpulkan gelas plastik maupun kardus bekas.” Tahun 1980 an saya sudah ada di sini, wah saat itu sekeliling belum sebagus ini, masih berantakan.” seraya menunjuk sekitar bantaran kali Cisadane yang pada tahun tersebut masih beralaskan tanah merah dan belum ada perubahan. diceritakan, sejak kecil Marni(ibu Nadia) sudah membantu orangtuanya mengumpulkan Genjer/ semacam kangkung.“Kehidupan dulu susah banget, nggak seperti sekarang.”ujarnya. terlahir sebagai anak dari keluarga kurang mampu membuatnya harus berusaha keras, sayangnya ia harus putus sekolah pada kelas 2 SD akibat kekurangan biaya. sepeninggal kedua orangtuanya, ia akhirnya mencoba untuk mencari uang sendiri. tanpa bekal dan pengetahuan lebih, ia akhirnya menjalankan kerjaan sebagai pemulung dan mengumpulkan barang bekas adalah kerjaan utamanya apalagi setelah bertemu dengan Ujeng yang sama-sama melakukan kerjaan seperti itu. nasib Ujeng, suaminya tidaklah jauh berbeda. sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu serta tidak pernah mengenyam pendidikan dasar membuatnya memilih berprofesi sebagai pemulung.
Gerobak berwarna hijau dengan segala macam barang hasil memungut bercampur aduk dengan bahan makanan sehari-hari yang memang seadanya saja. ada ulekan cabai, wadah ulekan yang terbuat dari batu, kompor minyak, dan sebungkus cabai hijau kecil terhampar di dekat tempat mereka menetap sementara yaitu samping Masjid Agung kota Tangerang dekat bantaran kali Cisadane. Dari hasil mengumpulkan gelas plastik untuk kemudian dijual, sehari bisa mendapat Rp 10000. “Bila sedang tidak dapat banyak, dibawah Rp 10000,”ujar Marni dengan lirih sambil menggendong anaknya yang ketiga, Karlina(1 tahun 2 bulan). sehari-hari, yang bekerja mengumpulkan barang bekas adalah Ujeng dan Agus(4 tahun), anak kedua mereka yang masih kecil sudah mengikuti orangtuanya mengumpulkan barang bekas di jalan sekitar kota Tangerang. Telah lama tinggal di lokasi tersebut, membuat sebagian orang yang lewat atau melintas mengenal keluarga Marni ini. Tak jarang ada yang merasa kasihan dan memberi uang atau barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti gula, teh celup, kopi, garam,dan lainnya. “Hidup zaman dulu susah de, apalagi sekarang harga-harga melambung tinggi, wah beneran susah,”ujar Marni bercerita mengenai kehidupannya dulu tahun 1980 an. Ditanya mengenai harapan ke depannya nanti, ibu 3 orang anak ini menjawab bahwa bisa hidup saja udah bahagia sekali apalagi dapat melihat anak-anak mereka bersekolah, rasanya senang bukan main. Sewaktu mengobrol dengan Nadia mengenai tulis-menulis, ia mulai menunjukkan hasil pembelajarannya di sekolah dengan menulis alphabet A-Z. kendatipun tulisannya tidaklah rapi, ia cukup senang dalam menulis dan berharap bahwa besar nanti bisa menjadi dokter. “Kak..kak, coba liat nih, tulisan aku bagus nggak? ini huruf U loh..” dengan sedikit manja kepada saya. Nadia adalah anak kecil yang manis, berkulit hitam, dengan rambut pendek, dan tergolong lincah. Melakukan kerjaan seperti itu setiap hari tidaklah membuatnya malu, dibalik wajahnya yang polos, tersimpan harapan yang besar untuk terus maju dan berjuang menghadapi kerasnya hidup ini.
Seperti inilah potret kaum marjinal di daerah Tangerang yang sehari-hari dapat kita lihat. mereka mengisi setiap ruang pandang kita dengan berada di setiap waktu dari pagi hingga malam hari. Dengan bermodalkan gerobak kecil, memulai perjalanan demi sesuap nasi dan harapan akan mendapatkan uang cukup untuk makan sehari-hari seperti yang dikatakan oleh Marni bahwa uang hari ini untuk kebutuhan hari ini juga. Tak ada jaminan keselamatan bagi para pemulung, pengemis ataupun anak jalanan. Mereka semua mengadu nyawa dengan menembus medan kehidupan yang sangat sulit. Tak jarang makian, usiran, ataupun pukulan sering mereka terima karena tindakan mereka yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Bagaimana dengan pemerintah kita yang dalam kampanyenya terdahulu berniat mengurangi kemiskinan dan menyediakan tempat tinggal yang layak bagi masyarakat kecil? tampaknya hal tersebut hanyalah berupa wacana saja. Tidak ada sesuatu yang pasti termasuk juga janji, bagi Nadia dan keluarganya bisa hidup untuk hari ini saja sudah cukup. Tidak perlu sesuatu yang berlebih. Itulah tanda kepasrahan segelintir masyarakat kecil yang ada di Indonesia.(RAN)
Lokasi: pinggiran jalan sepanjang bantaran kali Cisadane.
Rabu, 25 Agustus 2010

Kebangkitan Sang BIRU
sekilas mata memandang...
hamparan coklat membentang luas...
berharap tumbuh yang baru...
iringan harapan setia menemani...
tiang-tiang pancang menjulang tinggi...
besi-besi kokoh mulai melapisi...
lama tahunan menanti...
muncul biru cemerlang bulat...
awal baik telah terwujud...
menanti calon kebanggaan bangsa..
dengan pengetahuan penuh di kepala...
bersiap menyambut yang datang...
wahai Sang Biru cemerlang...
bangkitkanlah jiwa-jiwa yang telah lama terkubur... dengan pengamalan dan penghayatan Tridarma...
niscaya Generasi Muda Luar biasa muncul...
sekilas mata memandang...
hamparan coklat membentang luas...
berharap tumbuh yang baru...
iringan harapan setia menemani...
tiang-tiang pancang menjulang tinggi...
besi-besi kokoh mulai melapisi...
lama tahunan menanti...
muncul biru cemerlang bulat...
awal baik telah terwujud...
menanti calon kebanggaan bangsa..
dengan pengetahuan penuh di kepala...
bersiap menyambut yang datang...
wahai Sang Biru cemerlang...
bangkitkanlah jiwa-jiwa yang telah lama terkubur... dengan pengamalan dan penghayatan Tridarma...
niscaya Generasi Muda Luar biasa muncul...
By: Randy Hernando
Minggu, 25 Juli 2010
Kenangan Lama Bersama Teman Seperjuangan( part 3)
lanjutan...
event ini merupakan kali pertama saya bergabung dalam organisasi. banyak hal yang saya dapatkan dari pengetahuan berorganisasi sampai pada proses pengambilan keputusan. tak terasa waktu cepat berlalu, saya sudah sampai di penghujung sekolah menengah atas( 3 SMA) dan sebentar lagi akan memulai era baru dalam kehidupan yang serba multimedia...
the end
beberapa foto kenangan bersama teman lama...







event ini merupakan kali pertama saya bergabung dalam organisasi. banyak hal yang saya dapatkan dari pengetahuan berorganisasi sampai pada proses pengambilan keputusan. tak terasa waktu cepat berlalu, saya sudah sampai di penghujung sekolah menengah atas( 3 SMA) dan sebentar lagi akan memulai era baru dalam kehidupan yang serba multimedia...
the end
beberapa foto kenangan bersama teman lama...
Senin, 21 Juni 2010
Kenangan Lama Bersama Teman Seperjuangan( part 2)
Lanjutan...
2 IPS 1, itulah kelasku di tahun kedua yang penuh dengan berbagai macam kegiatan bermakna dan tidak akan pernah terlupakan. Di tahun ini pula untuk pertama kalinya saya ikut dalam organisasi yaitu OSIS. Sepintas terdengar keren mendengar nama OSIS ini, hanya sayangnya, penempatan tugas khusus untuk divisi saya tidaklah jelas yaitu sebagai MPK(Majelis Perwakilan kelas). Entah apa kerjanya bagian tersebut...
setiap tahunnya sekolah saya mengadakan suatu event besar dan khusus di tahun kedua ini diadakanlah suatu event perlombaan yang dinamakan De Vision(Part 2). Mengapa Part 2? sebab pada kurun 2 tahun yang lalu event ini pernah diselenggarakan dan lumayan sukses. Maka dari itu, pada angkatan sekarang, dilanjutkanlah event tersebut guna menambah relasi yang baik antara sekolah-sekolah di daerah Tangerang.
Acara tersebut akan diselenggarakan dari tanggal 20- 25 oktober 2008. Dengan tema " Save The Earth With Creativity", diharapkan semua insan dapat turut serta berpartisipasi dalam menyelamatkan lingkungan dari ancaman Pemanasan Global. Setelah tema acara ditentukan, dimulailah pembentukan panitia-panitia inti dan secara kebetulan saya ikut serta berpartisipasi sebagai seksi perlengkapan.
Mendapat pengalaman baru ini membuat saya menjadi bersemangat karena amat membosankan bila berada di kelas terus mendengarkan guru menerangkan. Berbicara mengenai suatu event, pastilah diperlukan DANA, tanpa itu, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar. Diceritakan, kami para panitia secara bergantian menjaga stand di lantai 4( tempat berjualan makanan dan minuman) guna mencari dana untuk acara ini. Selain dari berjualan, seksi Dana juga mencari sponsor yang mau berpartisipasi dalam acara, hanya saja pada saat proses berjalan, ditemukan berbagai kendala seperti salah proposal pengajuan ke pihak perusahaan karena kausul penawaran tidak dicantumkan, sedikit membuat malu pihak sekolah. waktu berjalan dengan sangat cepat, tak terasa event tersebut sudah mendekati harinya. Kami dari Seksi perlengkapan mulai sibuk bantu2 mempersiapkan segala keperluan acara yang berlangsung selama 6 hari tersebut. Bila dilihat pada saat itu, dana yang terkumpul belum memenuhi target, masih kurang sekitar beberapa juta lagi. Pada akhirnya, beberapa kebutuhan terpaksa dipotong karena budget yang pas-pasan. Waktu yang dinanti-nantikan pun tiba, semua panitia sudah bersiap di pos masing-masing. Acara yang diperlombakan antara lain adalah Pertandingan futsal, Basket, Story telling, Debat English,dan lomba Band. Sebelum dimulai, semua peserta berkumpul di halaman depan untuk menyaksikan pembukaan acara yang ditandai dengan penanaman pohon oleh ketua panitia, setelah itu, acara resmi dibuka.
berikut beberapa foto dari acara tersebut yang dapat dibilang berlangsung sukses...
2 IPS 1, itulah kelasku di tahun kedua yang penuh dengan berbagai macam kegiatan bermakna dan tidak akan pernah terlupakan. Di tahun ini pula untuk pertama kalinya saya ikut dalam organisasi yaitu OSIS. Sepintas terdengar keren mendengar nama OSIS ini, hanya sayangnya, penempatan tugas khusus untuk divisi saya tidaklah jelas yaitu sebagai MPK(Majelis Perwakilan kelas). Entah apa kerjanya bagian tersebut...
setiap tahunnya sekolah saya mengadakan suatu event besar dan khusus di tahun kedua ini diadakanlah suatu event perlombaan yang dinamakan De Vision(Part 2). Mengapa Part 2? sebab pada kurun 2 tahun yang lalu event ini pernah diselenggarakan dan lumayan sukses. Maka dari itu, pada angkatan sekarang, dilanjutkanlah event tersebut guna menambah relasi yang baik antara sekolah-sekolah di daerah Tangerang.
Acara tersebut akan diselenggarakan dari tanggal 20- 25 oktober 2008. Dengan tema " Save The Earth With Creativity", diharapkan semua insan dapat turut serta berpartisipasi dalam menyelamatkan lingkungan dari ancaman Pemanasan Global. Setelah tema acara ditentukan, dimulailah pembentukan panitia-panitia inti dan secara kebetulan saya ikut serta berpartisipasi sebagai seksi perlengkapan.
Mendapat pengalaman baru ini membuat saya menjadi bersemangat karena amat membosankan bila berada di kelas terus mendengarkan guru menerangkan. Berbicara mengenai suatu event, pastilah diperlukan DANA, tanpa itu, semuanya tidak akan berjalan dengan lancar. Diceritakan, kami para panitia secara bergantian menjaga stand di lantai 4( tempat berjualan makanan dan minuman) guna mencari dana untuk acara ini. Selain dari berjualan, seksi Dana juga mencari sponsor yang mau berpartisipasi dalam acara, hanya saja pada saat proses berjalan, ditemukan berbagai kendala seperti salah proposal pengajuan ke pihak perusahaan karena kausul penawaran tidak dicantumkan, sedikit membuat malu pihak sekolah. waktu berjalan dengan sangat cepat, tak terasa event tersebut sudah mendekati harinya. Kami dari Seksi perlengkapan mulai sibuk bantu2 mempersiapkan segala keperluan acara yang berlangsung selama 6 hari tersebut. Bila dilihat pada saat itu, dana yang terkumpul belum memenuhi target, masih kurang sekitar beberapa juta lagi. Pada akhirnya, beberapa kebutuhan terpaksa dipotong karena budget yang pas-pasan. Waktu yang dinanti-nantikan pun tiba, semua panitia sudah bersiap di pos masing-masing. Acara yang diperlombakan antara lain adalah Pertandingan futsal, Basket, Story telling, Debat English,dan lomba Band. Sebelum dimulai, semua peserta berkumpul di halaman depan untuk menyaksikan pembukaan acara yang ditandai dengan penanaman pohon oleh ketua panitia, setelah itu, acara resmi dibuka.
berikut beberapa foto dari acara tersebut yang dapat dibilang berlangsung sukses...
kenangan Lama Bersama Teman Seperjuangan

waktu itu cepat sekali berlalu, takkan dapat diulang...
itulah yang sekarang saya alami, penyesalan selalu datang belakangan. Cerita Bermula sejak kelas 1 SMA di salah satu sekolah swasta di daerah Tangerang. mengingat dulu, saya adalah seorang yang pendiam dan sangat serius dalam menyimak setiap pelajaran di sekolah. saat itu, seperti remaja kebanyakan, saya sangat suka bermain dan mencari pengalaman baru. Berbekal kemampuan dalam bergaul, tak lama orang mulai mengenal saya dan bagaimana saya berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
membaca sudah menjadi keseharian saya, tidaklah mengherankan bila banyak sekali buku(komik atau pengetahuan umum) di dalam kamar. semakin saya banyak membaca, semakin banyak ilmu dan pengalaman yang didapat. Salah satu hobi yang masih terbawa sampai sekarang adalah rasa ingin tahu yang tinggi tentang suatu hal baru menjadikan saya orang yang sedikit banyak bersikap Skeptis. berbicara soal teman, ada banyak yang memang saya sukai dan merasa cocok bila di dekat mereka. saya termasuk orang yang beruntung dikelilingi oleh teman2 yang dapat diandalkan dan sedikit banyak turut berperan dalam membangun potensi yang selama ini masih terpendam.
pada awal masuk SMA, saya ditempatkan di kelas X-2 bersama dengan teman2 yang bisa dikatakan termasuk pintar( rata-rata peringkat 10 besar dulu di SMP). melihat banyak persaingan, saya tidak gentar ataupun takut, malahan memicu semangat dalam belajar. alhasil, nilai rapor saya memuaskan di semester 1. mulai masuk semester 2, niat saya belajar menjadi kurang dikarenakan sering bermain dan pelajaran yang lumayan sulit seperti biologi, fisika dan matematika. padahal, sewaktu SMP nilai biologi dan fisika termasuk bagus.
akhirnya, kenyataan pun terjadi bahwa saya harus memilih jurusan IPS ketimbang IPA yang sangat diagung-agungkan...
kelas 2 SMA, masa-masa dimana kemampuan saya mulai terasah kendati persaingan sudah agak longgar karena sebagian teman2 yang pintar masuk IPA.
bersambung...
itulah yang sekarang saya alami, penyesalan selalu datang belakangan. Cerita Bermula sejak kelas 1 SMA di salah satu sekolah swasta di daerah Tangerang. mengingat dulu, saya adalah seorang yang pendiam dan sangat serius dalam menyimak setiap pelajaran di sekolah. saat itu, seperti remaja kebanyakan, saya sangat suka bermain dan mencari pengalaman baru. Berbekal kemampuan dalam bergaul, tak lama orang mulai mengenal saya dan bagaimana saya berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
membaca sudah menjadi keseharian saya, tidaklah mengherankan bila banyak sekali buku(komik atau pengetahuan umum) di dalam kamar. semakin saya banyak membaca, semakin banyak ilmu dan pengalaman yang didapat. Salah satu hobi yang masih terbawa sampai sekarang adalah rasa ingin tahu yang tinggi tentang suatu hal baru menjadikan saya orang yang sedikit banyak bersikap Skeptis. berbicara soal teman, ada banyak yang memang saya sukai dan merasa cocok bila di dekat mereka. saya termasuk orang yang beruntung dikelilingi oleh teman2 yang dapat diandalkan dan sedikit banyak turut berperan dalam membangun potensi yang selama ini masih terpendam.
pada awal masuk SMA, saya ditempatkan di kelas X-2 bersama dengan teman2 yang bisa dikatakan termasuk pintar( rata-rata peringkat 10 besar dulu di SMP). melihat banyak persaingan, saya tidak gentar ataupun takut, malahan memicu semangat dalam belajar. alhasil, nilai rapor saya memuaskan di semester 1. mulai masuk semester 2, niat saya belajar menjadi kurang dikarenakan sering bermain dan pelajaran yang lumayan sulit seperti biologi, fisika dan matematika. padahal, sewaktu SMP nilai biologi dan fisika termasuk bagus.
akhirnya, kenyataan pun terjadi bahwa saya harus memilih jurusan IPS ketimbang IPA yang sangat diagung-agungkan...
kelas 2 SMA, masa-masa dimana kemampuan saya mulai terasah kendati persaingan sudah agak longgar karena sebagian teman2 yang pintar masuk IPA.
bersambung...
Langganan:
Komentar (Atom)