Sangkakala Langit
Angin semilir di tengah perbatasan
Lambai pelan tak bersua
Harap tanduk nan muncul
Tergelepar keheningan
Kerikil putih nan elok di tanah pertiwi
Bangkitkan sangkakala kelam gelap
Tanyakan nurani terdalam segala ucap
Kerikil putih nan elok telan roh diri
Biru kelam di tengah kerumunan
Merah gelap di setiap simpangan
Jerit pilu sayat menyayat pecah sunyi malam
Aroma ngeri membahana layaknya cekam
Lorong langit, 2010
Tak Berbalas
Dingin senyawa di malam merah tenggelam laksana langit tercerai
Terduduk bisu aku, tatap cakrawala hitam nan pekat
Tersadar oh tersadar…
Yang termanis tercuri dari kesepian malam terdingin
Tatkala aku menoleh, tersirat sebuah nama… hilang
Aku sedari termenung…
Jiwa hijau nan lugu lenyap sudah, waktu terlewat
Akankah terlihat?
Bagai gula dikerubung semut
Habis hilang, tersisa kosong
Lorong Langit, 2010
“Itu”
Andai “Itu” berputar
Coba “Itu” berubah
Sang Mawar merekah tersungging seribu aroma
Andai “Itu” bersatu
Coba “Itu” bertemu
Sang Lebah mencium hangatnya nectar merah
Andai “Itu” berputar
Andai “Itu” berubah
Hujan pun menangis bahagia seiring pelangi abadi
Hidup
Teng…teng… teng… denting emas rasuki pikiran
Tak ubahnya opium penyihir ribuan umat
Begitu pun dia ataupun Engkau
Panjatkan rasa seraya mengangkat
Sembari tengok, ternyata kecil mungil ya dia ataupun engkau?
Keluar lepas… hirup penantian sekian lama…
Ayahanda… ini Saya! Tak terlihatkah ?
Aku t’lah bebas! Aku lepas! Inilah awal !
Sakit perih campur senang, tak sia juang lama
Tidur tak tenang, makan pun waspada
Sadar waktu… sadar menit… sadar detik…
Ibunda… ini Saya! Tak terlihatkah?
Aku t’lah bebas! Aku bahagia! Inilah akhir!
Tinggalah secerca pesan kepada yang baru
Lanjutkan semangat ke medan jua
Kembali bila selamat, kabarkan saat gerbang menjemput
Selintas Lalu Perjuangan
Jalan setapak di tepian sawah memanggil rimbaan masa awal
Ingatkan juang jagoan perang
Modalkan tekad, tanpa bersusah, semua bergerak
Panas matahari tersapu deru badak berbaju besi
Tanduk runcing bersiap sambut sang musuh
Terjatuh, terkulai, terjerembab, terdiam
Gumpalan kental terurai bercampur udara
Pekikan menyayat langit memecah kebisuan waktu
Terdiam sesaat… hembusan semilir angin meresap…
Pandangan hampa di depan… seolah berkata sampai bertemu
Gertak gigi menahan api jasmani
Tangan kosong seraya membidik
Tak ada lawan… semua usai teman
Kabarkan ke tanah kota … selintas peristiwa
Lorong Langit, 2010
Puisi ditulis oleh Randy Hernando
Tidak ada komentar:
Posting Komentar