Laman

buku-buku bermakna

  • 101 kisah bermakna dari negeri China( Lei Wei Ye)
  • I am Gifted! So Are You?(Adam Khoo)
  • si cacing dan kotoran kesayangannya(Ajahn Bram)
  • the secret(Rhonda Byrne)

Cari Blog Ini

Minggu, 17 Oktober 2010

Potret Kecil Kaum Terpinggir Bantaran Kali Cisadane


Langkahnya pelan tapi meyakinkan, menyusuri setiap gang dekat bantaran kali Cisadane demi sesuap nasi. malam diselimuti hawa dingin, siang diserang panas terik, namun itulah yang setiap hari ia jalani setelah pulang sekolah.
K
ring!kring!” bel tanda selesaipelajaran berbunyi. waktunya semua siswa pulang. Nadia(10 tahun)berjalan gontai keluar dari gerbang sekolahnya. perlahan tapi pasti, ia mulai menyusuri setiap gang kompleks perumahan dekat sekolahnya untuk memulai pekerjaan rutinnya yaitu memungut gelas plastik. Anak pertama dari 3 bersaudara itu sejak kecil sudah ikut kedua orangtuanya mengumpulkan gelas plastik ataupun kardus bekas. Baju coklat dan celana merah muda yang ia kenakan sedianya siap mendampinginya dalam bekerja.
Wajah ceria terlihat dari pipinya yang manis sekalipun dalam keadaan kotor. Ketika ditanya apa cita-citanya, ia pun menjawab,”aku ingin jadi dokter.” Bersama kedua orangtuanya beserta adiknya, mereka tinggal dimana-mana alias tidak punya tempat menetap. Ibunya bernama Marni(48 tahun dan ayahnya bernama Ujeng(34 tahun).”Kalau malam kami tinggal di halaman depan toko batik, kalau pagi sampai sore di sini,”ujar Marni. Marni dan suaminya Ujeng telah lama mengumpulkan gelas plastik maupun kardus bekas.” Tahun 1980 an saya sudah ada di sini, wah saat itu sekeliling belum sebagus ini, masih berantakan.” seraya menunjuk sekitar bantaran kali Cisadane yang pada tahun tersebut masih beralaskan tanah merah dan belum ada perubahan. diceritakan, sejak kecil Marni(ibu Nadia) sudah membantu orangtuanya mengumpulkan Genjer/ semacam kangkung.“Kehidupan dulu susah banget, nggak seperti sekarang.”ujarnya. terlahir sebagai anak dari keluarga kurang mampu membuatnya harus berusaha keras, sayangnya ia harus putus sekolah pada kelas 2 SD akibat kekurangan biaya. sepeninggal kedua orangtuanya, ia akhirnya mencoba untuk mencari uang sendiri. tanpa bekal dan pengetahuan lebih, ia akhirnya menjalankan kerjaan sebagai pemulung dan mengumpulkan barang bekas adalah kerjaan utamanya apalagi setelah bertemu dengan Ujeng yang sama-sama melakukan kerjaan seperti itu. nasib Ujeng, suaminya tidaklah jauh berbeda. sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu serta tidak pernah mengenyam pendidikan dasar membuatnya memilih berprofesi sebagai pemulung.
Gerobak berwarna hijau dengan segala macam barang hasil memungut bercampur aduk dengan bahan makanan sehari-hari yang memang seadanya saja. ada ulekan cabai, wadah ulekan yang terbuat dari batu, kompor minyak, dan sebungkus cabai hijau kecil terhampar di dekat tempat mereka menetap sementara yaitu samping Masjid Agung kota Tangerang dekat bantaran kali Cisadane. Dari hasil mengumpulkan gelas plastik untuk kemudian dijual, sehari bisa mendapat Rp 10000. “Bila sedang tidak dapat banyak, dibawah Rp 10000,”ujar Marni dengan lirih sambil menggendong anaknya yang ketiga, Karlina(1 tahun 2 bulan). sehari-hari, yang bekerja mengumpulkan barang bekas adalah Ujeng dan Agus(4 tahun), anak kedua mereka yang masih kecil sudah mengikuti orangtuanya mengumpulkan barang bekas di jalan sekitar kota Tangerang.
Telah lama tinggal di lokasi tersebut, membuat sebagian orang yang lewat atau melintas mengenal keluarga Marni ini. Tak jarang ada yang merasa kasihan dan memberi uang atau barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti gula, teh celup, kopi, garam,dan lainnya. “Hidup zaman dulu susah de, apalagi sekarang harga-harga melambung tinggi, wah beneran susah,”ujar Marni bercerita mengenai kehidupannya dulu tahun 1980 an. Ditanya mengenai harapan ke depannya nanti, ibu 3 orang anak ini menjawab bahwa bisa hidup saja udah bahagia sekali apalagi dapat melihat anak-anak mereka bersekolah, rasanya senang bukan main. Sewaktu mengobrol dengan Nadia mengenai tulis-menulis, ia mulai menunjukkan hasil pembelajarannya di sekolah dengan menulis alphabet A-Z. kendatipun tulisannya tidaklah rapi, ia cukup senang dalam menulis dan berharap bahwa besar nanti bisa menjadi dokter. “Kak..kak, coba liat nih, tulisan aku bagus nggak? ini huruf U loh..” dengan sedikit manja kepada saya. Nadia adalah anak kecil yang manis, berkulit hitam, dengan rambut pendek, dan tergolong lincah. Melakukan kerjaan seperti itu setiap hari tidaklah membuatnya malu, dibalik wajahnya yang polos, tersimpan harapan yang besar untuk terus maju dan berjuang menghadapi kerasnya hidup ini.
Seperti inilah potret kaum marjinal di daerah Tangerang yang sehari-hari dapat kita lihat. mereka mengisi setiap ruang pandang kita dengan berada di setiap waktu dari pagi hingga malam hari. Dengan bermodalkan gerobak kecil, memulai perjalanan demi sesuap nasi dan harapan akan mendapatkan uang  cukup untuk makan sehari-hari seperti yang dikatakan oleh Marni bahwa uang hari ini untuk kebutuhan hari ini juga. Tak ada jaminan keselamatan bagi para pemulung, pengemis ataupun anak jalanan. Mereka semua mengadu nyawa dengan menembus medan kehidupan yang sangat sulit. Tak jarang makian, usiran, ataupun pukulan sering mereka terima karena tindakan mereka yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Bagaimana dengan pemerintah kita yang dalam kampanyenya terdahulu berniat mengurangi kemiskinan dan menyediakan tempat tinggal yang layak bagi masyarakat kecil? tampaknya hal tersebut hanyalah berupa wacana saja. Tidak ada sesuatu yang pasti termasuk juga janji, bagi Nadia dan keluarganya bisa hidup untuk hari ini saja sudah cukup. Tidak perlu sesuatu yang berlebih. Itulah tanda kepasrahan segelintir masyarakat kecil yang ada di Indonesia.(RAN)

Lokasi: pinggiran jalan sepanjang bantaran kali Cisadane.